Pedukuhan

1. GADINGLUMBUNG
Kondisi Geografis
Dusun Gading Lumbung  memiliki batas administrasi dusun sebagai berikut  :
  • Sebelah Barat                                  :   Dusun Greges
  • Sebelah Selatan                               :   Dusun Gading Daton
  • Sebelah Timur                                 :   Dusun Gadingharjo dan Tegal Sari
  • Sebelah  Utara                                 :   Dusun Methuk
Batas alam yang membatasi Dusun Gading Lumbung dan Greges berupa jalan raya.
batasdusungdnglmbng
Gambar di sebelah kiri adalah jalan raya yang merupakan batas barat yang membatasi dusun Gading Lumbung dengan Dusun Gading Daton.  Dusun ini terletak di sebelah selatan Balai Desa Donotirto.  Pola pemukiman warga berbeda apabila dibandingkan dengan kondisi pemukiman di Dusun Tegal Sari.  Rata- rata warga masyarakat memiliki tanah pekarangan yang cukup luas di samping tanah yang mereka bangun untuk rumah tinggal.. Pekarangan ditanami bermacam –  macam tanaman pekarangan seperti pisang, melinjo, dan buah- buahan.
Sejarah Dusun
Wilayah Gading Lumbung pada awalnya juga merupakan tanah kering atau tegalan yang kemudian menjadi permukiman. Sejarah nama dari pada Gadinglumbung karena pada jaman kerajaan di tempat itu terdapat bangunan lumbung yang dipergunakan untuk menyimpan padi hasil panen.
situslumbungpadi
Gambar Peninggalan Situs Lumbung Padi
Saat ini masih terlihat situs lumbung tersebut berupa batu dengan bentuk perseg√≠ panjang dengan ukuran kurang lebih ½ meter x 1 meter.Tempat inilah bekas lumbung penyimpan hasil panen, yang hanya tinggal sejarah dan disekitar tempat tersebut tumbuh semak dan pepohonan besar seperti gayam yang buahnya dapat dibuat panganan/keripik.
 Potensi Dusun
Potensi sumberdaya alam di Dusun Gadinglumbung adalah tanah pekarangan. Pekarangan mempunyai potensi mencukupi kebutuhan keluarga karena masih relatif luas dengan ditanami berbagai tanaman keras yang hasilnya mempunyai nilai ekonomi untuk menambah kebutuhan keluarga.  Tanaman yang banyak terdapat di Dusun Gading Lumbung adalah kelapa. pisang  dan melinjo atau bahan baku emping yang harganya relatif mahal. Dusun Gadinglumbung walaupun terletak di daerah pedesaan namun tidak banyak penduduk yang berprofesi sebagai petani. Setiap pekarangan dapat dipastikan ada tanaman melinjo, tetapi sayang di Dusun Gading Lumbung belum diupayakan untuk mengolah sendiri hasil tanaman tersebut. buah melinjo setelah dipanen dijual di pengepul atau dijual di pasar.  Potensi sumber daya alam yang menguntungkan tersebut belu dimanfaatkan oleh sebagian warga yang dapat menjadi peluang usaha untuk meningkatkan hasil komoditi dusun yang bahan bakunya telah tersedia di susun tersebut. Warga masyarakat dapat mendirikan industri kecil pengolahan melinjo menjadi emping yang dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Ketrampilan dalam pengolahan yang belum dimiliki di samping modal yang diperlukan untuk memulai usaha tersebut.
Potensi sumber daya manusia tidak begitu menonjol. Generasi muda yang ada hanya bekerja apabila ada yang mengajak, seperti buruh bangunan. Mereka yang mempunyai kemauan pergi merantau ke luar Jawa atau menjadi TKI ke luar negeri. Sebagian warga dusun yang berhasil  mereka hidup di luar kota Yogyakarta atau di pusat kota Yogyakarta sehingga rumah dibiarkan kosong dan sesekali datang untuk menengok rumah dan pekarangannya. Sarana prasarana pendidikan misalnya hanya terdapat taman kanak- kanak dan kelompok bermain yang bertempat di rumah kepala  dusun.
Selain tempat kelompok belajar, rumah kadus juga sebagai tempat untuk Posyandu balita dan Lansia yang diadakan setiap tanggal 9 di tiap bulannya. Penguasaan tanah di Dusun Gading Lumbung saat ini ada beberapa warga yang tidak memiliki tanah pertanian melakukan bagi hasil tanah bengkok kepala dusun secara bergantian. Harapan kepala dusun dengan memberikan tanah bengkoknya untuk dibagihasilkan warga agar mereka dapat ikut serta menikmati tanah yang dikuasainya. Selain itu, kadus tidak mempunyai waktu untuk mengerjakan sendiri.
Situs Ekonomi Dusun
Situs ekonomi Dusun Gading Lumbung tidak begitu diminan, yang ada hanyalah beberapa warung/toko kelomtong yang menyediakan  barang- barang kebutuhan sehari- hari seperti sayuran, bensin dan sembako. Situs ekonomi dusun yang lain adalah ada penggilingan padi dan toko bangunan yang menjual beberapa bahan material bangunan.
Keahlian Warga
Keahlian warga masyarakat Dusun Gading Lumbung sebagian besar adalah sebagai petani. Selain keahlian bertani, warga bekerja sebagai buruh bangunan, pegawai negeri dan TNI Polri. Berbeda dengan kedua dusun yang lain yang telah diuraikan di atas, keahlian di bidnag usaha tidak banyak terlihat di Desa Gading Lumbung.
Program Pengembangan Dusun
Dusun Gading Lumbung sampai saat ini belum terdapat program- program pengembangan dusun yang spesifik. 
----------------------
2. BUSURAN
Kondisi Geografi
Dusun Busuran terletak disebelah timur Desa Donotirto dengan batas wilayah administratif sebagai berikut :
  • Sebelah Utara : Dusun Sruwuh
  • Sebelah Barat : DusunTegalsari
  • Sebelah Timur : Dusun Colo
  • Sebelah Selatan : Dusun Mersan
Dusun Busuran terdiri dari 5 RT (Rukun Tetangga) dari mulai RT 36 – RT 40. Hampir sama dengan dusun Sruwuh, Dusun Busuran terbagi menjadi dua wilayah yaitu sebagian kecil disebelah barat jalan Parangtritis merupakan daerah persawahan, dan sebagian besar wilayahnya ada disebelah timur jalan Parangtritis yang merupakan daerah permukiman padat. Kondisi topografis daerah dataran ,kemiringan lereng 0 – 2 % dengan penggunaan tanah sebagian besar digunakan untuk permukiman dan sebagian lagi merupakan daerah pertanian tegalan dan persawahan. Pola permukiman penduduk mengelompok dengan kondisi permukiman relatif padat..Jumlah penduduk sebanyak 484 jiwa( 156 KK)  terdiri 219 laki-laki dan 265 perempuan.
Kepala Dusun Sruwuh adalah Bapak Anas Martanta, SE.
Potensi Sumberdaya Manusia
Potensi sumberdaya manusia sebagian besar adalah petani 28 jiwa, buruh tani 11, PNS 12, pedagang 15, pengusaha 12, jasa bangunan 10 dan sebagian adalah jasa lainnya. Berdasarkan banyaknya penduduk menurut pendidikannya sebagian besar 222 tamat SD, 109 tamat SLTA, 0 orang tamat sarjana, dan tidak tamat SD sebanyak 46 orang, sedangkan selebihnya tamat SMP dan beberapa tamat program diploma. Fasilitas kegiatan kemasyarakatan yang ada di dusun Busuran adalah adanya Karang Taruna, Posyandu, PAUD, Koperasi Simpan Pinjam dan yang terkait dengan keagamaan adalah adanya kegiatan pengajian Yasinan dengan jumlah jamaah sebanyak 80 orang dan takmir masjid. Lembaga pendidikan yang ada adalah TK yang dikelola Yayasan Muhamadiyah dan SD Negeri I Donotirto. Di bidang pertanian Dusun Busuran memiliki kelompok tani Tirto Nugroho dan P3AI Perkumpulan Petani Pemakai Air dengan jangkauan wilayah seluas 25 Ha. Tanah sawah umumnya 3 kali padi dalam 1 tahun dengan penggarapan tanah menggunakan traktor pribadi yang dapat disewakan dengan biaya sewa per lubang Rp 1.250 atau per Ha (1000 lubang) biaya sewa Rp 1.250.000,-. Panen umumnya menggunakan mesin perontok padi (tresor) dimana petani umumnya memiliki alat ini.
Dusun Busuran juga memiliki tanah kas desa yang dapat disewakan yang digunakan sebagai sumber PAD  yaitu tanah sawah klas I (dengan irigasi baik) 1 Ha Rp 21.000.000/tahun, untuk klas II Rp. 17.000.000 dan klas 3 Rp. 14.000.000/tahun
Situs Ekonomi Dusun 
bkdUntuk wilayah dusun-dusun disebelah timur Desa Donotirto maka posisi dusun Busuran memgang posisi penting karena di dusun Busuran terdapat lembaga ekonomi desa terdapat Badan Kredit Desa yang jangkauan pelayanannya meliputi lima dusun yaitu Busuran, Sruwuh,  Tegalsari, Mersan, dan Colo dibawah binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan jasa pelayanan simpan-pinjam. Kegiatan ekonomi yang terkait dengan usaha perdagangan terdapat toko kelontong, tolo bahan bangunan, toko  onderdil sepeda motor dan mesin dan beberapa kios/warung

Industri kecil kreatif yang memiliki potensi untuk berkembang adalah adanya industri souvenir dengan bahan gelas kecil dan lilin, tas dan kayu yang diberi lukisan batik. Industri ini dikelola oleh Bapak Sahibul Dani seorang difabel korban gempa bumi tahun 2006 yang sebelumnya memang berusaha dibidang souvenir dan sekaligus agen kayu batik dan barang-barang antik dan kemudian mendirikan usaha yang diberi nama Buldan Batik Craft dengan tenaga kerja sebanyak 7 orang dimana 4 diantaranya adalah difabel. Untuk sementara usaha souvenir ini untuk memenuhi pesanan Mirota Jogja dan juga dengan pengusaha souvenir dari propinsi Bali. Beliau juga adalah pendiri paguyuban difabel Bantul yang diberi nama Paguyuban Bangkit Bersama (PBB) dengan kedudukan sekretariat sekaligus menjadi tempat tinggalnya.
BatikBuldan
Usaha kecil lainnya yang juga potensial memberikan mata pencaharian bagi warga setempat adalah usaha pengumpulan/pengolahan barang bekas (rongsok) khususnya yang berbahan plastik. Usaha ini dimotori oleh Bp. Iswahyudi seorang muda yang awalnya “mulung” kemudian menjadi pengepul dan terakhir menjadi pengusaha olah rosok dengan tenaga kerja sebanyak 10 orang yang digaji Rp 35.000 per hari. Usaha penggilingan plastik ini menghasilkan bahan mentah berupa serpihan/potongan plastik kecil-kecil yang dipisahkan berdasarkan jenis plastik dan warnanya, dimana barang siap dikirim ke sentra industri di Surabaya apabila telah terkumpul 6 – 7 ton pecahan plastik ( 1 truk diesel), dengan harga:
  • warna putih bening Rp 12.000/kg
  • warna putih susu Rp 8.000 – 9.000/kg
  • berwarna Rp 6000 – 7.000/kg
Usaha lain yang terdapat di dusun Busuran adalah adanya bengkel mobil yang menyerap tenaga kerja setempat dan juga adanya koperasi simpan pinjam (setelah gempa 2006 tidak aktif lagi) serta adanya tabungan jangka pendek ( 1 tahun habis ) untuk kebutuhan Idul Fitri dll yang dikelola oleh warga dusun.
----------------
3. COLO
Kondisi Geografi
Dusun Colo terletak di sebelah paling timur Desa Donotirto dengan batas wilayah administratif sebagai berikut:
  • Sebelah Utara: Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong
  • Sebelah Barat: Dusun Busuran dan Mersan
  • Sebelah Timur: Sungai Opak
  • Sebelah Selatan: Sungai Opak
Dusun Colo terdiri dari 4 RT (Rukun Tetangga) dari mulai RT 32 – RT 35, awalnya merupakan gabungan dusun Colo dan Bedog Dusun ini sebagian besar wilayahnya merupakan lahan pertanian dan tegalan dan sebagian lagi merupakan daerah permukiman. Kondisi topografisnya adalah daerah dataran, dengan kemiringan lereng 0 – 2 %. Pola permukiman penduduk mengelompok dengan kondisi permukiman relatif kurang padat. Jumlah penduduk sebanyak 647 jiwa(145 KK)  yang terdiri 293 laki-laki dan 354 perempuan.
Sejarah Dusun Colo
Dalam sejarahnya dusun Colo merupakan dusun di pinggir sungai Opak yang apabila dilihat dari Desa Donotirto wilayah ini merupakan wilayah desa yang “menjorok” ke sungai sehingga kemudian muncul istilah “ Moncol tur ala”. Istilah ini memiliki makna negatif sebagai wilayah yang terkesan kumuh dan pernah kebanjiran (tahun 1964) karena posisinya di pinggir sungai.Kepala Dusun yang sekarang menjabat adala Bapak Sujudi
kaduscolo
Kepala Dusun Colo : Sujudi
Potensi Sumberdaya Manusia
Potensi sumberdaya manusia sebagian besar adalah petani, buruh tani, dan profesi jasa bangunan. Berdasarkan banyaknya penduduk, menurut pendidikannya sebagian besar tamat SD, sebagian tamat SLTP dan SLTA, dan 7 orang tamat Perguruan Tinggi. Fasilitas kegiatan kemasyarakatan yang ada di dusun Colo adalah adanya Karang Taruna yang kurang begitu aktif, dan kegiatan yang terkait dengan pertanian tergabung dalam kelompok tani Tirto Nugroho dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3AI)) dari dusun Busuran yang mengatur pembagian air terjadwal (amprahan), yakni seminggu mengalir 2 hari efektif. Tanah sawah umumnya 3 kali padi dalam 1 tahun tergantung cuaca. Saat ini (September 2013) lahan persawahan ditanami padi dan sebagian tanaman palawija seperti brambang (bawang merah), kedelai, kacang, dan di beberapa tempat ditanami dengan melon. Panenan sawah dilakukan dengan sistem tebas dengan upah untuk 1 Ru (14 m²) Rp 30.000 dimana setiap 1 Ru menghasilkan 10 kg gabah atau 5 kg beras. Pada tanah tegalan terutama di selatan tanggul sungai ditanami pisang dan kalanjana (rumput gajah) untuk pakan sapi. Pada wilayah pekarangan umumnya ditanami dengan pisang dan pohon kelapa namun tidak produktif lagi karena terserang hama, dan pada musim seperti ini (mongso mareng) pohon kelapa banyak ditebang untuk diambil kayunya (glugu) karena pada musim seperti ini kayu glugu kualitasnya baik (kandungan air sedikit).
Dusun Colo juga memiliki tanah kas desa yang dapat disewakan yang digunakan sebagai sumber PAD  yaitu 1 Ru  Rp 15.000/tahun dan disewakan hanya untuk warga setempat, sedangkan untuk tanah pelungguh (gaji perangkat) apabila disewakan dapat mencapai Rp 25.000/tahun.
Potensi Ekonomi
Potensi dusun yang mungkin dapat dikembangkan selain tanaman brambang dan melon adalah adanya kegiatan peternakan, berupa sapi (jumlahnya sedikit) maupun kambing kampung dan kambing Peranakan Etawa (PE). Pada waktu yang lalu (2013) pernah ada bantuan dalam jumlah terbatas Rp 1.000.000/KK yang kemudian dibelikan kambing 15 ekor untuk 15 KK. Peserta KK yang terpilih adalah keluarga muda dan miskin. Sebagai ilustrasi 1 anak PE umur 4 bulan dihargai Rp 700.000, pejantan PE seharga Rp 4.500.000 dan apabila ingin dikawinkan ongkosnya Rp 50.000.
Potensi warga yang lainnya adalah adanya warung bakmi yang cukup terkenal di wilayah Desa Donotirto yaitu Bakmi Colo
----------------------
4. GADINGDATON
Kondisi Sosial Geografis
gd1Dusun Gading Daton adalah satu dari dusun yang ada dibawah Desa Donotirto, Terletak di sebelah Selatan balai Desa Donotirto, kurang lebih 1.5 kilo. Berbatasan dengan Kali Opak sebelah selatan dan Kali Winongo di timur, batas paling selatan dari Gading Daton. adalah dusun Dusun Gadingharjo. Pertemua dua sungai yakni kali Opak dan Kali Winongo ada di Dusun Gadung Daton. Dusun ini terdiri atas empat RT, (RT 5-8), sementara RW tidak ada di Gading Daton. Total jumlah penduduk Gading Daton 588 (update data 2013), menurut Kepala Dusun, data pemilih untuk pemilu 2014 ada sekitar 449 orang. Dari struktur sosial ekonomi, Dusun Gading Daton masuk wilayah yang cukup banyak penerima BLSM sebanyak 83 orang, penerima GAKIN 31 orang, penerima JAMKESDA 72 orang, penerima RASKIN 99 orang, dan penerima JAMKESMAS sebanyak 249 orang. Melihat data ini sebenarnya mayoritas warga Gading Daton masuk golongan ekonomi lemah. Dalam statistik pendiikan misalnya tidak lebih dari 10 orang yang saat ini sedang kuliah, artinya mayoritas warga tidak melanjutkan kependidikan tinggi setelah lulus SMA. Sementara dari struktur pekerjaan masyarakat, mayoritas adalah buruh tani, artinya dari mayoritas warga ini hanya sedikit yang memiliki lahan. Rata-rata mereka menjadi buruh di ladang baik untuk tanaman padi maupun brambang.
Dari segi topografis daerahnya, gading Daton tidak memiliki bukit atau daerah tinggi, semua daeraha dataran dengan ketinggian antara + 13 m sampai dengan 20 m dari permukaan laut. Dari sisi lahan dan luasan, mayoritas lahan ditanami dengan padi dan brambang. Pohon lain yang ada di sekitar pekarangan adalah tanamam keras seperti kelapa, mangga, rambutan, dan lainnya.
Sejarah Dusun
Menurut beberapa narasumber di Gading Daton, Sejarah Gading Daton adalah kedaton,dahulunya merupakan tempat yang digunakan sebagai benteng dari kerajaan. Gading Daton dipake untuk Pagar Kedaton yang merupakan pindahan kerajaan dari Pleret. Karena kedatan Pleret terkena banjir, maka sebagian kerajaan di Pleret pindah ke sekitaran Gading, baik Gading Harjo, Gading Daton, dan Gading Lumbung. Gading lumbung merupakan wilayah sebagai lumbung padi kerajaan, sementara Gading Daton meruapkan wilayah yang merpakan pagar atau benteng dari Kedaton.
Potensi Dusun
Jika melihat struktur sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat Dusun Gading Daton, sebenarnya tersimpan banyak potensi yang dimiliki, akan tetapi hal itu tidak terlihat karena Masyarakat Gading Daton lebih memilih bekerja di luar daerah seperti Jogja atau di wilayah lain. Potensi SDM jika dilihat dari usia produktif sangat besar, karena dari angka dan data Dusun, usia produktif Gading Daton lebih dari 60%. Artinya bisa dikembangkan oleh dusun jika ada ruang-ruang untuk dilakukan. Ketika penulis mencoba lama berdiri di atas pagar tembok Kali Opak, persis di atas pertemuan dua kali, sungguh suatu pemandangan menarik. Seandainaya kali ini dijadikan wisata, baik wisata kuliner maupun pemancingan, maka akan menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan local dan luar. Hal itu bisa dimanfaatkan untuk memmberikan alternatif bagi wisatawan ketika berkunjung ke Pantai. Pemandangan di bawah bukit dan gerojokan air yang ckup memberikan suasana nyaman bagi orang yang sedang beristirahat. Bagi penulis, yang terbersik adalah seandanianya disekitar kali itu terdapat tempat sitirahat seperti taman kulner, makan hal itu akan menjadi sesuatu yang menarik. Pertemuan dua sungai di Gading Daton menjadi daya mistis dan menarik untuk  wisatawan.
Tentu saja SDM juga bisa mengembangkan sistem pertanian, namun lahan ini saya anggap sudah jauh lebih mapan, karena masyarakat dari tahun ketahun sudah menerapkan system yang baku dalam bertani, begitu juga intensifikasinya. Mereka sudah mahir berhitung antara bertani brambang dan padi, manayang lebih diutamakan. Satu hal yang menarik juga dan belum banyak dikembangkan di Gading Daton adalah berternak. Di GAding Daton, masih banyak lahan tegalan yang kosong, terutama disepanjang pinggir Kali Opak. Jika ruang-ruang ini bisa dimanfaatkan oleh warga untuk berternak, baik kambing maupu ayam dan sapi, hal itu akan jauh lebih member nilai tambah bagi warga dusun.
potensigd
-------------------
5. GADINGHARJO
Kondisi Geografis
Dusun Gadingharjo memiliki batas administrasi dusun sebagai berikut  :
  • Sebelah Barat                                  :   Dusun Gading lumbung
  • Sebelah Selatan                               :   Sungai Opak (Desa Parangtritis)
  • Sebelah Timur                                 :   Dusun Mersan
  • Sebelah  Utara                                 :   Dusun Tegalsari dan Busuran
Kondisi geografis dusun Gadingharjo merupakan dataran rendah seperti dusun-dusun di sekitarnya.  Tengah-tengah dusun  dilalui jalan Parangtritis. Batas fisik yang membatasi susun Gadingharjo dan dusun Gading Lumbung adalah sungai Winongo yang bermuara di Sungai Opak. Letak dusun Gadingharjo berada disebelah timur Balai Desa Donotirto. Pola pemukinan penduduk bervariasi. Rata-rata warga Gadingharjo memiliki tanah pekarangan yang luas disamping terdapat bangunan perumahan. Keadaan ini terutama lokasi pemukiman yang berada di tengah- tengah dusun. Berbeda dengan daerah dipinggiran jalan Parangtritis. Banyak sekali bangunan ruko atau los yang diperuntukkan untuk tujuan komersial (tempat usaha).
Sejarah Dusun
Pada awalnya sebelum menjadi Dusun Gadingharjo, dusun ini beasal dari pecahan Desa Donotirto terbagi menjadi 3 kring sebelum menjadi Desa. Ketiga Kring tersebut adalah Kring Banyudono, Kring Gadingharjo dan Kring Kradenan.  Pemangku kring yang juga di sebut lurah juga ada 3 orang. Tetapi pada perkembangannya kring Gadingharjo menyempit menjadi satu dusun Yaitu Dusun Gadingharjo, sedangkan 2 kring lainnya melebur menjadi satu dan digabung dengan dusun Gadingharjo menadi Desa Donotirto.
Potensi Dusun
Potensi dusun Gadingharjo tidak jauh beda dengan dusun Tegalsari. Dusun Gadingharjo yang lokasinya tidak jauh dari pantai, merupakan wilayah yang berpotensi untuk kegiatan usaha/perdagangan. Lokasi dusun yang dilalui jalan Parangtritis sangat berpotensi untuk usaha, apalagi saat liburan atau hari raya tiba. Potensi pertanian atau perkebunan di Dusun Gadingharjo tidak begitu banyak. Sebagian kecil warga dudun Gadingharjo yang memiliki tanah pertanian atau perkebunan. Apabila ada yang memiliki itupun jauh dari dusun tersebut atau berlokasi di dsun lain. Warga yang memiliki tanah disepanjang jalan Parangtrits dibangu  ruko/los yang siap disewakan
Biasanya penyewa bukan dari kalangan warga setempat melainkan dari daerah lain bahkan dari luar kabupaten Bantul. Penyewa biasanya orang- orangyang mempunyai modal cukup besar untuk pembukaan toko. Contoh  : Toko oleh- oleh Vera. Warga masyarakat dusun Gadingharjo tidak memanfaatkan sendiri peluang usaha yang ada di daerah tersebut. Modal yang menjadi persoalan kenapa mereka lebih baik menyewakan tokonya daripada membukanya sendiri. Amak- anak muda yang ada setelah lulus sekolah mereka bekerja sebagai buruh bangunan, tukang parkir, sopir kendaraan umum ataupun kernet angkot. Sopir angkot dan kernet kendaraan umum memperoleh gaji dari penghasilah harian yang didapat. Tergantung banyak sedikitnya penumpang dan perolehan penghasilan tiap hari. Apabila ramai penunpang lumayan, tetapi apabila sepi penumpang kadangkala hany cukup untuk setor dan membeli bahan bakar.  Mereka pergi pagi pulang petang dengan jalur opersional mulai dari pantai parangtriis sampai dengan terminal bus Yogyakarta. Selain sebagai sopir angkot dan kernet biasanya sebagai tukang pakir di pasar ataupun di lokasi pariwisata pantai, baik Parangtritis maupun panrai Depok. Ada beberapa warga yang berusaha sebagai pengepul hasil panenan (penebas). Mereka membeli hasil panenan seperti padi, palawija dan juga bawang merah yang tidak hanya di lokasi dusun Gadingharjo saja tetapi dari dusun-dusun lain di sekitar .Mata pencaharian warga selain itu, juga beternak sapi.  Bahkan ada sebanyak 25 orang peretnak sapi yang tergabung dalam kelompok ternak Ngudi Makmur yang  mendirikan kandang ternak bersama yang berada di pinggiran sungai Opak.  Sarana prasarana yang ada di Dusun Gadingharjo, yaitu sekolah, masjid.
Situs Ekomoni Dusun
Sentra industri kecil tidak ada di dusun Gadingharjo. Kondisi saat ini yag ada hanya usaha kecil yang bersifat rumahan, yaitu pedagang makanan kecil seperti jajan pasar yang dijual di pasar maupun dijual di lokasi wisata pantai Parangtritis.
Keahlian Warga
Keahlian warga dusun Gadingharjo terbatas pada kemampuan usaha perdagangan kecil-kecilan dan  belun dapat mengembangkan potensi yang ada. Potensi yang dapat dikembangkan sebagai daerah yang lokasinya dekat dengan obyek wisata pantai, yaitu perdagangan oleh- oleh khas Yogyakarta yang masih bisa dikembangkan.Sepanjang jalan Parangtritis baru sedikit counter-counter toko oleh- oleh, padahal apabila musim liburan sangat dubutuhkan oleh wisatawan yang berkunjung di Pantai Parangtritis.  Sebagian masyarakat yang memiliki los yang siap untuk disewakan, lebih baik dimanfaatkan sendiri untuk usaha dengan banuan lembaga permodalan seperti bank. Agar perekonomian dusun bida lebih berkembang lagi.  Keahlian warga dusun Gadingharjo sebatas sebagai buruh degan penghasilan harian, sopir, kernet, laden tukang dan usaha berjualan makanan kecil/ jajan pasar. Sebagian kecil usaha toko kelontong dan buruh tani. Hanya yang memiliki modal mereka usaha pengepul hasil panenan apabila musim panen tiba.
Program Pengembangan Dusun
Program yang telah digagas oleh mantan Kadus yang telah meninggal dunia pada bulan Agustus tahun 2013 lalu adalah pembangunan gedung ertemuan dusun. Dana untuk pembangunan telah tersedia dari hasil swadaya masyarakat dusun Gadingharjo. Sebagian telah dibelikan bahan material seperti pasir dan baru gamping untuk pondasi. Lokasi memanfaatkan tanah kas desa yang berada di sebelah selatan Dusun Gadingharjo yang berdekatan dengan Sungai Opoak. Kepemimpinan kadus sebelum terpilihnya kadus pengganti dijabat oleh perangkat desa, yaitu Kasi Ekubang Drsa Donotirto. Program lain yang masih dalam taraf rencana yaitu pelatihan bagi kaum pemuda/pemudi untuk membuat bulu mata palsu. Pelatihan bekerjasama dengan pihak swasta/perusahan dan harapannya setelah dilakukan pelatihan, dapat langsung bekerja dalam perusahan yang bersangkutan yang memberikan pelatihan.
----------------
6. GREGES
Kondisi Geografis
Dusun Greges terletak di sebelah barat Kantor Desa Donotirto. Dusun ini memiliki batas geografis yaitu di sebelah barat berbatasan dengan Desa Tirto Mulyo, sebelah timur dengan Dusun Busuran, sebelah utara dengan dusun Methuk dan selatan dengan Dusun Gading Lumbung. Di tahun 2013, jumlah Kepala Keluarga di desa ini mencapai 235 KK dengan total jumlah penduduk 900 jiwa. Sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian utama sebagai petani  padi dan palawija. Sebagai bagian wilayah Indonesia yang beriklim tropis, wilayah Dusun Greges juga tidak jauh berbeda. Musim hujan dan kemarau mewarnai cuaca sepanjang tahun. Dan jika diperbandingkan, musim kemarau cenderung membawa efek yang lebih panjang dan berat khususnya dalam bidang pertaniannya. Oleh karenanya, untuk melakukan pengairan sawah-sawah yang ada mengandalkan tadah hujan/sumur pantek yang dialirkan dengan menggunakan mesin dan pipa/selang ke sawah-sawah warga.
Dusun Greges letaknya berdekatan dengan Kantor Desa Donotirto. Sehingga untuk menjangkau desa tersebut tidak mengalami kesulitan. Akses sarana transportasi dan sarana prasarana yang ada di dusun tersebut relatif mudah dan lengkap.
Sejarah Dusun
Keberadaan dusun Greges memiliki riwayat asal usul yang cukup unik. Meskipun secara resmi tidak ada cerita pasti mengenai asal muasal nama Greges yang akhirnya dipergunakan sebagai nama desa. Namun di kalangan masyarakat asli yang sejak kecil dibesarkan di sana, nama Greges diambil dari pengetahuan warga sekitar karena “danyang”/penunggu/kuncen desa tersebut sering terlihat “mesam-mesem” atau senyum-senyum. Entah dari mana asal kata greges jika dikaitkan dengan hal tersebut, namun cerita inilah yang diwariskan oleh generasi tua kepada anak cucunya ketika ditanya soal sejarah Dusun Greges.
Potensi Dusun
potensigreges
Dusun Greges menyimpan potensi yang luar biasa. Berbagai macam potensi baik sumber daya manusia maupun alam terdapat di desa ini. Sumber daya manusia yang terdapat di dusun ini sangat beragam dan variatif. Jika ditinjau dari tingkat pendidikan warga yang mengenyam bangku perguruan tinggi dan bergelar Sarjana terdapat lebih kurang 200 orang, bahkan tingkat pendidikan Master (S2) dan Doktor (S3) juga ada di dusun ini. Namun disisi lain juga masih banyak warga yang tidak berpendidikan atau putus sekolah. Sebagaimana biasa dalam masyarakat desa, banyak faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan tersebut, mulai dari kondisi ekonomi warga, kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, faktor keluarga yang acuh tak acuh, sampai dengan sikap generasi mudanya yang memang tidak ingin bersekolah.Dusun ini belum mengembangkan kegiatan sosial yang memberikan jaminan pendidikan/beasiswa bagi warganya yang kurang mampu.Pendanaan selama ini hanya bersifat insidental dan dikumpulnya melalui kegiatan arisan RT yang diselenggarakan setiap sebulan sekali dengan menggugah kesadaran dari para warga untuk berperan serta membantu meringankan biaya pendidikan bagi warga yang kurang mampu. Model kegiatan sosial semacam ini, dikoordinir oleh masing-masing RT dengan sedapat mungkin berdasarkan pada asas pemerataan dan kemanfaatan. Sehingga bagi warga yang sudah pernah dibantu, periode berikutnya tidak akan mendapat bantuan karena diarahkan bagi warga yang lainnya.
Keragaman lain yang menarik di Dusun Greges adalah kerukunan umat beragama yang begitu harmonis. Warga Dusun Greges menganut agama dan kepercayaan yang sangat beragam. Bahkan tercatat seluruh agama yang diakui di Indonesia ada di Dusun Greges bahkan juga terdapat aliran kepercayaan yang kesemuanya hidup berdampingan secara damai.Ketika Dusun Greges terkena dampak bencana gempa bumi beberapa waktu yang lalu, berbagai macam bantuan baik sumbangan tenaga dan ekonomi masuk ke dusun ini. Dan sebagian besar diantaranya dikoordinir oleh masing-masing umat beragama tersebut. Sehingga meskipun jumlah umat beragama di Dusun Greges tidak terlalu besar, namun mereka memiliki peranan yang kuat dalam komunitas keagamaannya sehingga mampu mendorong dan menggerakkan guna membantu meringankan beban penderitaan akibat bencana gempa tersebut.
Situs Ekonomi Dusun
Kondisi desa yang masih alami dan asri akan kita dapati begitu memasuki wilayah Dusun Greges. Hamparan sawah yang luas langsung menyambut di sepanjang jalan masuk desa ini. Pertanian merupakan mata pencaharian utama/potensi sumber daya alam di dusun ini yang mengandalkan tadah hujan dan sumur pantek sebagai sumber pengairannya. Pertanian yang dikembangkan oleh masyarakat Dusun Greges meliputi padi, kacang-kacangan, dan tanaman palawija. Selain itu banyak juga warga yang mengembangkan perikanan seperti nila, gurameh, lele, dan jenis lainnya. Perikanan tersebut umumnya masih berskala kecil sehingga hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja, namun terdapat juga beberapa perikanan yang dilakukan dengan skala sedang yang mampu memasuk ke pasar atau rumah makan.Perkebunan yang dikembangkan meliputi pisang, kelapa, serta tanaman kebun lainnya. Warga dusun juga mengembangkan peternakan sapi skala rumah tangga yang biasanya ditempatkan di kebun/pekarangan milik warga. Utamanya sapi-sapi tersebut hanya dipergunakan sebagai tabungan apabila terdapat kebutuhan mendesak. Warga juga mengembangkan industri kecil seperti pembuatan peyek, mie basah, dan gorengan yang umumnya dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dengan tujuan sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga.
Satu-satunya industri mebel yang ada di Dusun ini adalah milik warga Dusun Metuk yang tempat produksinya berlokasi di Dusun Greges. Industri ini mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dari masyarakat Dusun Greges dan cukup memberi andilbagi peningkatan penghasilan masyarakat. Adapun sentra pendagangan bagi masyarakat Dusun Greges adalah Pasar Ngangkruksari dan Pasar Turi
Keahlian warga
Sebagaimana kehidupan warga di pedesaan umumnya, warga Dusun Greges memiliki tingkat keahlian yang sangat beragam. Disesuaikan dengan jenis mata pencaharian mereka sehari-hari, warga memiliki keahlian dalam bercocok tanam, memelihara ikan (gurame, bawal, nila, dan lele), pertukangan, beternak, berkebun, dan keahlian dalam memasak/kuliner. Namun sayangnya Dusun ini tidak memiliki produk kuliner/makanan khas yang memiliki nilai jual tinggi dan terkenal di daerah lain. Sehingga praktis hanya pertanian dan perikanan saja yang menunjukkan perkembangan. Industri kuliner yang dikembangkan warga hanya bersifat sampingan dan skala rumah tangga. Umumnya digunakan untuk memenuhi permintaan konsumsi warga sekitar dan dijual ke pasar. Pengembangan pertanian yang dilakukan warga telah memberikan pengetahun yang cukup dalam bercocok tanam terutama dalam menentukan jenis tanaman yang sesuai dengan cuaca/ musim yang ada. Selain itu jenis tanaman lain seperti bawang merah juga sudah mulai dikembangkan dengan mempelajari teknis bertanam jenis ini kepada petani dari dusun lain. Keahlian pertukangan juga dikembangkan oleh sebagian warga Dusun Greges. Sehingga kebutuhan tenaga untuk pembangunan rumah maupun infrastruktur sebagian sudah dapat dipenuhi melalui warganya. Bahkan keahlian pertukangan warga Dusun Gresges juga cukup terkenal ke daerah lain sehingga banyak juga warga yang diminta untuk menjadi tukang dalam pembangunan perumahan/infrastruktur di daerah lain.
Program Pengembangan Dusun
Program-program pemerintah yang masuk ke dusun ini cukup beragam jenisnya. Mulai dari LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) sebagai unsur struktural yang menggerakkan organisasi desa lain seperti Karangtaruna, PKK, dll. Lembaga ini cukup aktif dan berperan sebagai wadah kegiatan organisasi bagi warga Dusun Greges. Pada tahun 2009 pasca gempa bumi hebat yang melanda Yogyakarta, JRF (Java Reconstruction Fund) turut berpartisipasi dalam membangun kembali infrastruktur yang rusak di wilayah ini. Berbagai program sosial ekonomi tercatat juga masuk ke Dusun ini. Sebut saja PEKM (Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Miskin), PNPM Mandiri (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), Raskin (Beras Miskin), BLT (Bantuan Langsung Tunai), dan BLSM.Program pengembangan kapasitas dan peningkatan SDM juga telah merambah ke Dusun ini. Sebut saja berbagai pelatihan bidang pertanian yang digalakkan oleh Departemen Pertanian, pelatihan budidaya ikan, maupun juga pelatihan peternakan ayam dan sapi. Kesemuanya diterima warga dengan cukup antusias dengan harapan akan mampu meningkatkan output dan hasil yang mampu lebih mensejahterakan warga.
------------
7. KALIPAKEL
Kondisi Geografi
Dusun Kalipakel terletak di bagian Selatan Desa Donotirto. Dusun Kalipakel memiliki batas administratif, sebagai berikut: (a) Sebelah Utara berbatasan dengan Dusun Gading Daton, Dusun Palangjiwan, dan Dusun Mriyan; (b) Sebelah Timur berbatasan dengan Kali Opak; (c) Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Karang Desa Tirtohargo; (d) Sebelah Barat berbatasan dengan Dusun Galan Desa Tirtosari.. Permukiman penduduk mengelompok di bagian tengah-timur yang dilintasi oleh dua ruas jalan beraspal. Persawahan terletak di bagian utara dan selatan Dusun Kalipakel, sedangkan pekarangan berbaur dengan permukiman penduduk, tepatnya di bagian tengah-timur yang dilintasi oleh dua ruas jalan beraspal.
Sejarah Dusun
Dusun Kalipakel awalnya berupa hamparan sawah yang relatif luas, sedangkan permukiman yang relatif kecil terletak di bagian timur di tepi Kali Opak. Seiring berjalannya waktu permukiman meluas hingga ke bagian tengah, dan mengurangi luas areal persawahan. Kepemimpinan Dusun atau Kepala Dusun saat ini dijabat oleh Jayusman, sedangkan sebelumnya (1980 – 2002) dijabat oleh Dirjo Kusriyanto. Pada masa kepemimpinan Dirjo Kusriyanto (1980 – 2002) pembangunan dusun difokuskan pada sektor pertanian, agar petani dapat secara optimal memanfaatkan tanahnya. Pada masa kepemimpinan Jayusman (2002 – sekarang) pembangunan dusun difokuskan pada prasarana jalan, agar petani dapat memasarkan komoditas pertaniannya.
Potensi Dusun
Kondisi pertanahan di dusun ini belum memenuhi semangat “tertib pertanahan”, karena sebagian besar bidang-bidang tanah yang ada di dusun ini belum bersertipikat. Tanah sawah dikelola oleh masyarakat dengan pola tanam, sebagai berikut: padi – bawang merah – cabai – bawang merah – padi. Sementara itu, tanah pekarangan ditanami kelapa dan tanaman lainnya. Pengaturan pemanfaatan tanah dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat dalam wadah kelompok tani, yaitu Kelompok Tani “Mekar Jaya”. Peternakan di Dusun Kalipakel relatif baik, karena ada 10 kepala keluarga yang berternak kambing dan sapi. Contoh: Sudiro Wiyono (buruh tani Dusun Kalipakel) yang memiliki rumah relatif baik, juga memiliki 14 ekor kambing dan 8 ekor ayam. Sudiro Wiyono juga menjelaskan, bahwa bila sedang bekerja sebagai buruh tani, ia mendapat upah sebesar Rp. 50.000,- per hari. Karang Taruna Dusun Kalipakel dipimpin oleh Dwi Widianto (warga RT.01) dan wakilnya Sajiyo (warga RT.02), dengan kegiatan, antara lain: (a) memberi bantuan tenaga dalam mendukung kegiatan dusun, dan (b) membantu menyebarluaskan informasi yang terkait dengan pertanian dan kesejahteraan keluarga kepada masyarakat. Dusun Kalipakel memiliki dua pos layanan kesehatan, yaitu: (a) Pos Pelayanan Terpadu bagi balita (anak di bawah usia 5 tahun) yang dibuka setiap bulan pada tanggal 12; dan (b) Pos Pelayanan Terpadu bagi lansia (kaum lanjut usia) yang dibuka setiap bulan pada tanggal 12. Dalam bidang pendidikan, masyarakat Dusun Kalipakel memiliki satu buah KBM (Kelompok Belajar Mandiri) yang dipimpin oleh Heni Yuntari (warga RT.02), yang melayani program belajar Paket A, B, dan C
Situs Ekonomi Dusun
Kegiatan ekonomi di Dusun Kalipakel pada umumnya berbasis hasil pertanian, seperti: beras, bawang merah, dan cabai. Masih terkait dengan hasil pertanian (yaitu: kedelai), di Dusun Kalipakel terdapat satu kepala keluarga, yaitu Parjo, yang membuka usaha sebagai pengrajin tempe. Selain itu juga terdapat usaha penyewaan traktor, yang dapat membantu petani menggarap tanah sawahnya.Jumlah traktor di Dusun Kalipakel sebanyak 6 buah, yang dimiliki oleh: (a) Kelompok Tani “Mekar Jaya” sebanyak 1 (satu) buah traktor, dan (b) yang dimiliki oleh masyarakat sebanyak 5 (lima) buah traktor.
Keahlian Warga
Pada umumnya masyarakat Dusun Kalipakel memiliki keahlian sebagai petani, meskipun ada pula beberapa orang yang memiliki keahlian lain, seperti: (a) tukang batu, sebanyak 20 orang; (b) tukang kayu, sebanyak 4 orang; (c) pedagang kecil, sebanyak 2 orang, dan (d) peternak, sebanyak 10 orang. Sementara itu, ada beberapa anggota masyarakat Dusun Kalipakel yang merantau ke Jakarta, Jepang, dan Taiwan untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarganya. Jumlah anggota masyarakat Dusun Kalipakel yang merantau dapat dirinci, sebagai berikut: (a) ke Jakarta, sebanyak 20 orang; (b) ke Jepang, sebanyak 1 orang; dan (c) ke Taiwan, sebanyak 2 orang. 
Program Pengembangan Dusun
Program pembangunan yang mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bantul, antara lain: (a) perbaikan  jalan, (b) perbaikan irigasi, (c) peningkatan peran kelompok tani. Meskipun perbaikan jalan dan irigasi mendapat bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten Bantul, tetapi adakalanya masyarakat memberi kontribusi dalam format “swadaya”. Sudiro Wiyono (warga Dusun Kalipakel) menjelaskan, bahwa ia pernah berkontribusi sebesar Rp, 200.000,- untuk membangun jalan dan irigasi
irigasikalipakel
Saluran Irigasi yang baru dibangun
-----------------
8. MERSAN
Kondisi Geografi
Dusun Mersan terletak disebelah timur Desa Donotirto dengan batas wilayah administratif sebagai berikut :
  • Sebelah Utara : Dusun Busuran
  • Sebelah Barat : Dusun Gading Lumbung
  • Sebelah Timur : Dusun Colo
  • Sebelah Selatan : Dusun Gading Harjo
Dusun Mersan terdiri dari 4 RT (Rukun Tetangga) dari mulai RT 28 – RT 31. Hampir sama dengan dusun Sruwuh dan Dusun Busuranmaka Dusun Mersan terbagi menjadi dua wilayah yaitu sebagian kecil disebelah barat jalan Parangtritis merupakan daerah permukiman dan pusat ekonomi untuk Desa Donotirto, dan sebagian besar wilayahnya ada disebelah timur jalan Parangtritis yang merupakan daerah permukiman padat dan sebagian area persawahan. Kondisi topografis daerah dataran , kemiringan lereng 0 – 2 % dengan penggunaan tanah sebagian besar digunakan untuk permukiman dan sebagian lagi merupakan daerah pertanian tegalan dan persawahan. Pola permukiman penduduk mengelompok dengan kondisi permukiman relatif padat. Jumlah penduduk sebanyak 645 jiwa( 209 KK)  terdiri 299 laki-laki dan 350 perempuan dengan banyaknya rumah penduduk menurut laporan kepala dusun adalah rumah permanen sebanyak 160, semi permanen 1, dan rumah berlantai 2 sebanyak 9 rumah
Potensi Dusun
Kepala Dusun Mersan adalah Bapak Harsono, Potensi sumberdaya manusia sebagian besar adalah PNS/guru/TNI 49 jiwa, petani 45 jiwa, buruh tani 20 jiwa, pedagang 2, pengusaha 4, jasa bangunan 14 dan sebagian adalah jasa lainnya. Berdasarkan banyaknya penduduk menurut pendidikannya sebagian besar 320 tamat SLTA, 107 tamat SLTP, 170 tamat SD, 4 tamat D_3, 20 orang tamat sarjana, dan 28 orang belum sekolah. Fasilitas kegiatan kemasyarakatan yang ada di dusun Mersan terdapat kelompok Karang Taruna yang memiliki kegiatan dibidang seni dan olah raga, dan juga kegiatan pengumpulan sampah warga terutama sampah plastik yang dapat dijual ke pengepul di dusun Busuran. Potensi keluarga pra sejahtera masih tinggi dimana berdasar data tahun 2012 penerima bantuan langsung tunai sebanyak 40 orang, namun pada tahun 2013 meningkat menjadi 60 orang sehingga terkesan kemiskinan meningkat. Adanya kelompok tani tidak begitu aktif dan semua kegiatan yang terkait dengan pertanian selama ini menginduk ke dusun Busuran karena sumber air irigasi berasal dari dusun disebelah atasnya yaitu dusun Busuran. Potensi lain yang terdapat di dusun Mersan adalah adanya industri rumah tangga yaitu pembuatan krupuk dan peyek jinjing pantai.
ukmkrupuk
Situs Ekonomi Dusun
Situs ekonomi dusun yang potensial dapat dikembangkan oleh dusun Mersan adalah usaha pembuatan krupuk yang diusahakan oleh Bapak Kardi sejak tahun 1978 yang dapat menyerap tenaga kerja setempat. Bahan yang digunakan adalah tepung tapioka dengan bumbu bawang, trasi, moto, dan garam. Dalam 1 hari dapat menghabiskan bahan 1 kwintal tepung tapioka yang dapat menghasilkan krupuk 120 kg matang (siap diedarkan) dengan biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 600.000, tenaga kerja 5 orang dengan upah harian Rp 35.000. Pemasaran krupuk masih disekitar pasar Kretek dan sedang diupayakan kapasitasnya agar dapat merambah pasar Bantul atau bahkan sampai Yogyakarta.
Usaha lain yang potensial dapat dikembangkan dan sudah dipelopori oleh bapak Rustam Efendi adalah pembuatan batako dan conblok yang pada waktu wawancara sudah kewalahan menerima pesanan padahal sudah dibantu dengan tenaga bantu sebanyak 4 orang warga dari luar daerah artinya pesanan banyak tetapi tenaga pengolah kurang. Menurut pak Rustam untuk 1 truk pasir yang didatangkan dari Kulonprogo seharga Rp 300.000 dapat menghasilkan batako sebanyak 650 biji dengan rincian 1 sak semen seharga Rp 50.000 dapat menghasilkan 140 biji conblok atau 65 batako. Ongkos garap Rp 400/ 1 batako dan Rp 150/ 1 conblok, dengan harga jual batako Rp 1.600/biji dan  conblok Rp 28.000/m ( 1 m conblok = 21 biji )
Keahlian Warga
Sebagian warga merupakan petani baik di tanah persawahan, tegalan dan pekarangan rumah. Dimana di daerah tegalan ditanami dengan pisang  yang sebagian diambil buahnya dan sebagian lagi memanfaatkan pelepah batang pisang untuk dikeringkan dan dijual ke pengepul yang datang sebagai bahan pembungkus/pelapis kranjang tembakau. Tanaman yang diusahakan di beberapa pekarangan adalah dengan menanam pohon mahoni. Keahlian khusu lainnya seperti telah diterangkan diatas adalah industri krupuk dan industri pembuatan batako dan conblok. 
Program Pengembangan Dusun
Program pembangunan yang sedang dijalankan adalah pembangunan 2 gudang untuk penyimpanan barang inventaris milik dusun dengan anggaran Rp 10.000.000 – Rp 15.000.000 per gudang yang merupakan bantuan desa dan swadaya masyarakat dalam bentuk jimpitan berupa beras + uang Rp 5.000/KK/Selapanan.
Program lain yang masih berlanjut sampai sekarang adalah pengerasan jalan yang dimulai sejak tahun 2003 berjumlah 5 jalur ( 3 jalur utama dan 2 jalur kecil ) dan baru selesai 80% yang diperkirakan akan selesai 3 tahun lagi mengingat dananya harus menggunakan skala prioritas, karena ada juga pembangunan/pembuatan saluran pinggir jalan (pembangkitan) dan program penerangan jalan.
------------
9. METUK
Kondisi Geografis
lanskap methuk
Lanskap memasuki Dusun Methuk 
Dusun Metuk terletak sekitar 1 km dari Pasar Ngangkruksari ke arah barat. Jalan masuk ke dusun ini berada di sebelah timur lapangan Desa Donotirto. Sungai Pijenan, lahan persawahan dan jalan aspal selebar 3,5 meter merupakan landscape yang mendominasi pintu masuk ke dusun ini. Dusun Metuk secara geografis di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sidomulyo (Kecamatan Bambanglipuro), sebelah timur berbatasan dengan Dusun Tegalsari, sebelah selatan dengan Dusun Gading Lumbung dan Dusun Greges, serta sebelah Barat dengan Desa Tirtomulyo. Sebagian besar tanah di Dusun Metuk termasuk kategori agak berpasir, sehingga tidak begitu cocok untuk lahan persawahan. Selain kategori fisik tanah, sumber air yang jauh juga menjadi salah satu kendala pengembangan pertanian di daerah ini. Jika diusahakan untuk persawahan, panen hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun. Untuk memenuhi kebutuhan pengairan, warga biasanya menggunakan pompa. Karena kondisi tanah yang cenderung agak berpasir inilah, sebagian besar tanah di dusun ini lebih banyak diusahakan untuk tanaman keras. Kalaupun diusahakan untuk pertanian, hanya palawija dan padi tadah hujan yang masih memungkinkan. Kegiatan pertanian di Dusun Metuk dinaungi dalam Kelompok tani ‘Nyupoyo Bogo’ (mengusahakan pangan) yang merupakan kelompok tani gabungan antara dusun Metuk dan dusun Greges. Di Dusun Metuk sendiri sebenarnya terdapat Perkumpulan Petani Pemakai Air yang keanggotaannnya merupakan gabungan antara Dusun Metuk dengan Dusun Greges, namun kelompok ini cenderung tidak memiliki kegiatan sehingga keberadaannya juga menjadi tidak optimal. Dusun Metuk merupakan potret dusun yang sudah maju. Rumah-rumah dibangun berjajar rapi di sepanjang jalan dusun. Sebagian besar rumah sudah merupakan bangunan permanen. Beberapa diantaranya bahkan sudah dibangun dengan arsitektur modern dan menyerupai model kapling yang ada di perumahan.
perumahanmethuk
Gambar rumah penduduk Dusun methuk
Sejarah Dusun
Secara spesifik sejarah penamaan dusun ini tidak diketahui warga. Nama ‘Metuk’ sudah dikenal sejak dusun ini ada dan selalu disebut demikian. Kata ‘metuk’ sendiri dalam bahasa jawa berarti ‘menjemput’, namun menurut warga asal usulnya juga tidak dipastikan apakah makna ini berkaitan dengan penamaan dusun Metuk sendiri ataukah tidak.Ada cerita unik yang berkembang di dusun ini yaitu ‘mitos paing’. ‘Paing’ adalah nama salah satu hari pasaran dari 5 hari pasaran yang ada di Jawa (pon, wage, kliwon, legi, paing). Hari ‘paing’ dikatakan sebagai hari yang cukup sakral atau wingit. Diyakini bahwa pada malam paing-lah kejadian-kejadian yang kurang baik kerapkali terjadi seperti: orang meninggal atau kecurian.
Potensi Dusun
Potensi SDM dusun Methuk cukup potensial. “Tidak ada pengangguran disini’, seperti itulah penuturan kepala dusun Metuk ketika diminta memberikan gambaran tentang kondisi sumber daya manusia di Dusun Metuk. Setelah menyelesaikan pendidikan yang rata-rata lulusan SMU sampai dengan perguruan tinggi, pemuda pemudi Dusun Metuk biasanya akan bekerja baik di dusun Metuk sendiri maupun di luar dusun, seperti merantau ke Jawa Tengah atau menjadi pegawai negeri sipil. Beberapa usaha kreatif yang dijumpai di dusun ini antara lain servis elektronik dan persewaan soundsystem. Usaha-usaha ini banyak dilakukan oleh orang-orang muda yang  tidak secara intensif menekuni aktivitas pertanian.
Sedang potensi SDA kurang begitu menguntungkan karena di Dusun Metuk memang tidak terlalu potensial untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian karena terkendala dengan ketersediaan air. Apabila akan diusahakan untuk persawahan, padi yang cocok ditanam adalah jenis padi tadah hujan. Selama ini warga memanfaatkan pompa memenuhi kebutuhan pengairan. Meskipun tidak terlalu prospektif untuk persawahan, potensi peternakan dan industri kecil cukup berkembang di dusun ini. Ayam, itik dan kambing jawa merupakan jenis-jenis unggas dan ternak yang sebagian besar dikembangbiakan warga. Selain itu warga juga memelihara sapi yang dimanfaatkan sebagai investasi atau tabungan.
Potensi Sarana dan Prasarana
Dusun Metuk termasuk dusun yang cukup strategis. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari kelurahan Desa Donotirto, membuat dusun ini mudah dijangkau meskipun tidak berada langsung di pinggir jalan Parang Tritis. Berkaitan dengan sarana dan prasarana pendukung, dusun Metuk sudah cukup berkembang. Fasilitas pendidikan seperti PAUD sudah tersedia di dusun ini. Untuk Sekolah Dasar dan dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), warga dusun Metuk juga tidak terlalu kesulitan karena aksesnya tidak terlalu jauh (sangat terjangkau). Jalan-jalan dusun juga sudah beraspal sehingga memudahkan transportasi warga, meskipun di beberapa tempat masih dijumpai jalan yang rusak.
Potensi Budaya
Potensi kegiatan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Dusun Metuk adalah ‘sholawatan’. Kelompok sholawatan dari Dusun Metuk sebenarnya sudah banyak tampil baik di acara dusun sendiri (seperti: acara manten) dan di luar dusun seperti di Festival Pundong dan Gabusan. Cukup disayangkan kegiatan ini tidak berjalan dengan intensif lagi karena terkendala oleh semangat diantara para warga. Masyarakat terkesan jenuh/bosan sehingga ke depan sangat diperlukan pendampingan. 
Situs Ekonomi Dusun
Bagi warga dusun Metuk, rumah masih menjadi basis atau bisa dikatakan sebagai situs ekonomi warga. Hal ini secara nyata terlihat dari produk industri yang tidak hanya diolah atau diproduksi di rumah warga, melainkan juga diperjualbelikan di rumah. Para pembeli-lah yang biasanya datang ke rumah para produsen industri makanan olahan ini baik untuk memesannya terlebih dahulu atau membelinya langsung.
Industri rumah tangga di dusun Metuk menjadi salah satu sumber matapencaharian warga. Sumbangsih dari industri kecil memberikan sumbangsih cukup besar bagi perekonomian keluarga. Industri kecil berkembang bersamaan dengan mata pencaharian utama mereka sebagai petani. Hal ini dapat dilihat dari ragam industri kecil yang berkembang di dusun ini diantaranya: cokctail, lele goreng, peyek, cucur, bakwan, arem-arem, bakpia dan adrem. Industri kecil di Metuk rata-rata dilakukan oleh ibu rumah tangga. Hasil olahan biasanya dijual di pasar yang berada tidak jauh dari dusun seperti di pasar Ngangkruk, pasar Turi,  dan pasar Srandakan. 
Beberapa jenis olahan industri kecil seperti: cucur dan kolak juga merupakan jenis makanan yang jumlah produksinya bergantung pada pesanan. Pada hari Kamis wage (menjelang Jumat Kliwon), biasanya jenis makanan ini akan diproduksi lebih banyak karena pesanan yang juga lebih banyak. Masyarakat di wilayah ini memang memiliki kebiasaan melakukan sajen malam jumat kliwonan. Pada waktu-waktu inilah, mereka membutuhkan hasil olahan industri rumah tangga seperti cucur, apem, dan kolak yang biasanya jika tidak membuat sendiri, mereka akan memesannya kepada para tetangga yang memiliki industri rumah tangga yang mengolah jenis makanan ini. Para pemilik industri kecil pun, pada hari-hari tertentu ini tidak harus menjual makanan olahannya ke pasar, karena konsumen akan datang langsung membelinya ke rumah. Saat ini di Metuk juga terdapat satu pabrik pengolahan (daur ulang) plastik. Keberadaan pabrik ini cukup membantu meningkatkan perekonomian warga karena beberapa tenaga kerja diambil dari warga Dusun Metuk. Keberadaan industri kecil di Dusun Methuk masih bersifat mandiri. Belum ada pembinaan atau kelompok yang menaungi industri-industri yang ada di dusun ini.
Keahlian warga
Warga Dusun Metuk selain memiliki keahlian bertani dan pengolahan makanan untuk industri kecil, juga memiliki keahlian pertukangan seperti: tukang batu, dan meubel. Keahlian ini tidak sekedar dimanfaatkan oleh warga Dusun Metuk, melainkan juga dimanfaatkan oleh mereka yang berasal dari luar Dusun Metuk. Karena keahlian pertukangan inilah, warga Dusun Metuk (sekitar 20 orang) seringkali mendapat pesanan untuk membuat bangunan sampai ke luar daerah seperti ke Jakarta dan Kalimantan. Beberapa warga sebenarnya juga memilisungaiki keahlian membuat perabot dari bambu (gasebo). Namun sayang keahlian ini sekarang tidak dikembangkan lagi karena mengalami kesulitan dalam penjualannya.
Program Pengembangan Dusun
Beberapa program yang termasuk dalam kegiatan pengembangan dusun yang dilaksanakan di Dusun Metuk antara lain PAUD, Posyandu, Pokgiat (Kelompok Kegiatan), dan Karang Taruna. Selain kegiatan tersebut, di Dusun Methuk juga terdapat dana pendidikan yang diberikan kepada anak-anak yang tidak mampu. Dana pendidikan dikumpulkan diantara warga sendiri, untuk kemudian didistribusikan kepada anak-anak yang kurang mampu untuk mendukung pendidikannya. 
------------
10. MRIYAN
Kondisi Geografis
Batas Administrasi dusun Mriyan adalah sebagai berikut :
  • Sebelah Utara berbatasan dengan       : Desa Tirtomulyo dan Dusun Greges
  • Sebelah Selatan  berbatasan dengan   : Dusun Kalipakel
  • Sebelah  Barat berbatasan dengan      : Desa Tirtosari
  • Sebelah Timur berbatasan dengan      : Dusun Palangjiwan
Pola Pemukiman Penduduk,  penduduk memanfaatkan tanah pada awalnya melakukan pembukaan tanah baik sendiri maupun berkelompok, selanjutnya diusahakan dengan cara bertani atau berladang. Pembukaan tanah tersebut merupakan awal dari lahirnya kepemilikan tanah bagi individu, Hal tersebut  dilakukan secara turun temurun. Berdasarkan pola pemanfaatan tersebut penduduk kemudian  menetap dan bermukin. Seirama dengan lajunya perkembangan penduduk pemukiman semakin berkembang dan berkelompok seperti di dusun Mriyan sampai saat ini rata-rata 1 Kepala Keluarga (KK) terdiri dari 6 anggota keluarga.  (interview dengan Kepala Dusun tanggal 11-11-2013)
Sejarah Dusun
Riwayat keberadaan Desa Donotirto dulu (sebelum kemerdekaan) terdiri dari 3 kring atau (kalurahan lama) yaitu Kring Gadingharjo, Kring Banyudono dan Kring Kradenan serta Karangkopek. Karangkopek bermakna tidak mempunyai lahan pertanian. Hal ini dalam Letter C masih menyebutkan nama-nama kring tersebut, tetapi di administrasi desa sudah tidak dituliskan yaitu sejak tahun 1975 ke tiga kring tesebut menjadi Desa Donotirto. Sedangkan Dusun Mriyan sendiri dulunya terletak antara kring Gadingharjo dan Kring Karangadem. Perkembangan wilayahnya terjadi secara alami yaitu sesuai dengan laju pertambahan penduduk di wilayah tersebut yang lama kelamaan memperluas permukiman penduduk, yang dulunya sawah, ladang dan kebun campur menjadi pemukiman.
Potensi Dusun
Potensi SDM : keberadaan anak  muda di Dusun Mriyan mayoritas merantau ke luar kota seperti Jakarta  sebagai tenaga kerja yitu kerja di pabrik-pabrik. Anak muda lebih senang merantau kerja di pabrik karena merasa enggan menjadi petani meneruskan orang tuanya. Mayoritas pendidikan yang ditempuh sampai jenjang SLTA. Rata-rata pendudk yang tinggal di Dusun Mriyan adalah orang tua dan anak-anak usia sekolah. Namun saat ini sudah ada orang tua yang menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang Perguruan Tinggi seperti di Universitas Negeri Yogyakrata (UNY), UGM dan lain-lain.
Mobilitas penduduk  rata-rata setiap KK sudah mempunyai sepeda motor, terutama untuk mobilitas anak sekolah SLTA s/d Perguruan Tinggi dan ada yang sudah mempunyai roda 4 (mobil) sehingga di dusun Mriyan sepeda motor sudah menjadi kebutuhan pokok bagi penduduk. Sementara sepeda onthel kebanyakan digunakan penduduk untuk pergi ke ladang atau sawah yaitu untuk kegiatan lokal bertani seperti mencari rumput, merawat tanaman pertaniannya.
Potensi SDA :
Pertanian di Dusun Mriyan termasuk pertanian subur, tanaman padi dipanen 2 kali dalam setahun dan diselingi tanaman polowijo  1 kali, seperti tanaman jagung, dan kedelai. Kalau musim hujannya cukup lama bahkan bisa ditanami padi 3 kali setahun. Sebagai produk unggulan adalah tanaman hortikultura seperti bawang merah, cabai, melon.  (tetapi untuk melon belum dikembangkan), Untuk tamanan melon petani kebanyakan masih menyewakan sawahnya saja, sedangkan yang menanam adalah petani dari Kabupaten Kulon Progo. Menurut seorang petani tanaman bawang merah sebenarnya lebih menguntungkan hasil panennya dibanding tanaman padi Dari 1 kg bibit bawang merah bisa panen menjadi 12 kg dan usia tanamnya hanya 2 bulan sudah bisa dipanen,  tetapi banyak petani yang belum secara kontinyu menanam bawang merah karena biaya bibit, pupuk dan insektisida yang tinggi sehingga petani  merasa terbentur biaya tanamnya yang mahal sedangkan saat panen raya harga turun. Optimalisasi tegalan, pekarangan, sawah. Secara umum pemanfaatan tegalan dan pekarangan untuk kebun campur dan sawah untuk tanaman padi, polowijo dan tanaman hortikultura di Dusun Mriyan sudah optimal. Pada saat musim kemarau petani menanam palawija dan hortikultura contoh yang bisa diambil adalah pada tanaman melon, kedelai, jagung, cabai yang biasa ditanam dengan bawang merah secara sistem tumpang sari
pertanianmriyan

Namun pada musim kemarau panjang menjadi kendala petani dalam mendapatkan air untuk mengairi tanamannya. Nampak pada saat ini tanaman melon ada yang gagal panen akibat kekurangan air, dan beberapa blok sawah yang tidak ada irigasi air dibiarkan tidak ditanami atau diberokan.
Sementara itu ada petani yang inisiatip membuat sumur bor tetapi biaya nya memang cukup mahal sehingga tidak semua petani mampu membuat sumur bor tersebut,  terlihat pada gambar diatas sebagian sawah di berokan tetapi ada juga tanaman jagung yang hijau karena memperoleh air dengan menggunakan sumur bor.
Potensi kelembagaan :
Pengelolaan irigasi dikelola oleh Kelompok Tani (poktan) yang bernama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang menjangkau 2 dusun sampai 3 dusun sesuai lahan sawah dalam blok., air dimanfaatkan secara bergiliran sesuai kesepakatan kelompok tani. Ada juga Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang merupakan gabungan dari beberapa Poktan yang mempunyai fungsi sebagai Koperasi Poktan yang menggulirkan pinjaman bagi petani yang membutuhkan, misal pinjam 1 juta diangsur 10 kali tetapi dipotong bunga 1 kali angsuran di depan. Sehingga petani yang memnjam 1 juta menerima uang 900 ribu dan mengembalikan 100 ribu/bulan selama 10 kali.Selain meminjamkan modal usaha Gapoktan juga meminjami petani berupa benih/bibit, pupuk, obat-obatan./pestisida. Pada saat petani panen padi, Gapoktan juga mau membeli  gabah ke petani kemudian digiling dan menjual beras.
Di Dusun Mriyan masih tergolong sangat minim sarana dan prasaran yang dimiliki, Sarana Pendidikan terbatas pada Taman Kanak-kanak (TK) Aisiyah dan Sekolah Dasar Muhamadiyah masing-masing 1 buah, Sarana peribadatan masjid 3, gereja 1. Hal tersebut mencerminkan mayoritas penduduk Mriyan yang beragama Islam (98%) dan 2% penduduk beragama Katolik. Sedangkan sarana jalan  ada 3 jenis yaitu jalan aspal  yaitu jalan menuju dusun yang lebarnya 4 – 5 meter, jalan aspal ini merupakan bantuan dari Pemda Bantul. Sedangkan untuk jalan cor blok (lebar 3-4meter) dan jalan tanah (lebarnya 2 meter) merupakan biaya swadaya dari masyarakat dusun Mriyan. Namun sarana jalan penghubung untuk penduduk di Dusun Mriyan dengan dusun yang lain, masih sangat diperlukan jalan penghubung antar dusun, utamanya bulak Mriyan dengan Dusun Greges di sebelah utara dusun katena banyak anak-anak dusun Greges yang sekolah di SD Muhamadiyah yang merupakan SD Unggulan terpaksa melaui jalan kecil dipinggir sungai batas dusun yang rentan jatuh karena sempit dan licin saat hujan.
Situs Ekonomi Dusun
Sentra-sentra pertumbuhan ekonomi dusun : industri kecil
grcIndustri GRC yaitu industri cor-coran untuk cetak ornamen kubah masjid, gapura, dinding-dinding dan lain-lain. Indistri GRC ini cukup banyak menyerap tenaga kerja. Omset GRC ini merupakan omset yang paling besar di Dusun Mriyan karena pangsa pasarnya sudah sampai ke Jawa dan luar jawa seperti Bali. Contoh Masjid di Dusun Mriyan menggunakan GRC. Gambar disamping adalah bangunan masjid yang menggunakan GRC.
Keahlian Warga 
Pertukangan di Dusun Mriyan juga banyak dimiliki warga Mriyan sebagai mata pencaharian seperti tukang kayu, bengkel dan tukang bangunan. namun untuk tukang bangunan kebanyakan masih  ikut pemborong bangunan di luar dusun Mriyan.
Sementara ketrampilan  kelompok ibu-ibu dalam home industri seperti pembuatan tempe, emping melinjo, kue-kue tradisional, wedang uwuh yang dikemas dan di titipkan di super market-supermarket dan menerima pesanan dari luar desa, ada juga yang membuat kelompok anyaman besek.
 Program Pengembangan Dusun
Pada tahun 2006 Kabupaten Bantul terkena musibah gempa bumi, termasuk dusun Mriyan kena dampak gempa bumi tersebut, yaitu 90 % rumah warga rusak berat, 10% rusak ringan dan ada korban jiwa 2 orang meninggal dunia. Pemerintah telah memberi bantuan pembangunan fisik berupa bantuan rumah dengan ukuran 9 x 6 meter atau sekitar 15 juta per-rumah, selain bantuan rumah juga bantuan sarana jalan, masjid dan sarana lain.
Bantuan juga datang dari luar negeri :
Lembaga yang masuk di Dusun Mriyan pasca gempa bumi yaitu dari Bank Dunia (JRM) yaitu membantu membangun selokan  atau irigasi. Namun program tersebut hanya satu kali pada pasca gempa, sehingga program tersebut saat ini tidak berlanjut.
Program yang sudah dilakukan dan masih berlanjut adalah pembangunan masjid dan pengecoran jalan yang didanai secara swadaya oleh masyarakat dusun Mriyan sendiri.
--------------
11. PALANGJIWAN
Kondisi Geografis
Dusun Palangjiwan merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Donotirto bagian selatan. Meskipun bukan merupakan dusun paling selatan, tetapi termasuk wilayah bagian selatan desa.  Dusun ini terdiri dari 7 RT dan 3 RW. Secara lengkap, batas-batas Dusun Palangjiwan adalah : Sebelah Utara berbatasan dengan Dusun Gading Lumbung, Sebelah Timur Dusun Gading Daton, Sebelah Selatan Dusun Kalipakel, Sebelah Barat Dusun Mriyan. Ditinjau dari segi topografis wilayahnya, dusun ini seluruhnya merupakan daerah datar dengan ketinggian tempat antara + 15 m sampai dengan 20 m dari permukaan air laut. Meskipun bukan dusun pantai tetapi letak dusun ini memang tidak terlalu jauh dari pantai yaitu sekitar 2 Km di utara pantai selatan pulau jawa. Dusun Palangjiwan bisa dikatakan dusun pertanian karena penggunaan tanah sebagian besar wilayahnya adalah sawah (+ 50 %), tegalan (+30 %), permukiman (+ 15 %), dan + 5 % merupakan penggunaan tanah lainnya seperti jalan, sungai, kolam. Sebagian besar penduduknya adalah petani. Pola permukiman di dusun ini secara garis besar mengelompok dan terpisah menjadi dua wilayah yaitu Kampung Palangjiwan di dusun bagian utara dan Kampung Ngranan di dusun bagian tengah. Diantara kedua permukiman tersebut, terbentang sawah maupun tegalan. Di sekitar  permukiman penduduk yang berupa pekarangan umumnya ditanami pohon kelapa dan pisang. Di persawahan, selain ditanami padi, sebagian juga ada yang ditanami brambang dan cabe. Meskipun tanaman di sawah tersebut bercampur, tetapi bukan merupakan tanaman tumpangsari karena masing-masing tanaman tersebut di tanam di blok-blok yang berbeda. Sawah yang ada dialiri oleh saluran irigasi meskipun hanya merupakan saluran irigasi sederhana. Sebagian beberapa saluran irigasi permanen namun diupayakan oleh petani sendiri.
 Potensi Dusun
Potensi Sumberdaya Manusia yang menonjol adalah di sektor pertanian yaitu petani. Termasuk berusaha di bidang pertanian ini adalah para generasi muda. Tidak dijumpai penduduk dengan usia kerja merantau ke luar kabupaten, provinsi, apalagi ke luar jawa. Paling jauh juga ke luar desa,kecamatan atau kabupaten tetapi masih dalam satu provinsi. Potensi Sumberdaya Alam yang menonjol adalah di sektor pertanian termasuk di sektor peternakan dan perikanan. Sektor pertanian dan peternakan tampak sudah banyak yang dikembangkan. Selain tanah pertanian yang sudah dimanfaatkan, di dusun ini juga terdapat peternakan sapi yang dikelola oleh kelompok peternak dan peternakan ayam yang diupayakan oleh penduduk secara perorangan.  Potensi sektor perikanan sudah ada tetapi masih kurang dikembangkan. Terdapat beberapa kolam ikan air tawar tetapi tidak begitu optimal pengusahaannya. Sarana pendidikan yang ada adalah SD Donotirto 2 yang berada di Kampung Ngranan. Sarana kesehatan secara permanen belum ada di dusun ini. Terdapat Pos Pelayanan Terpadu Lanjut Usia (Posyandu Lansia) yang masih berlokasi di rumah Pak Dukuh yaitu Pak Kiswanto yang disebut Posyandu Lansia “Surya Lestari”. Selain Posyandu, di rumah Pak Dukuh juga digunakan untuk Satuan Paud Sejenis (SPS) yang disebut “Rembulan”. Di rumah Pak Dukuh ini-pun digunakan sebagai Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang dinamai sama pula yaitu Posdaya “Rembulan”. Itulah beberapa potensi kelembagaan yang sudah dikembangkan di dusun.
usahapljwn
Keahlian Warga
Selain ahli di bidang pertanian, peternakan, maupun perikanan, warga juga ada yang mempunyai keahlian di bidang perkayuan yaitu sebagai tukang kayu dan juga di bidang bangunan yaitu sebagai tukang batu. Penduduk yang memiliki keahlian-keahlian ini umumnya hanya bekerja apabila ada borongan pembuatan rumah penduduk yang berada di dusun. Jarang penduduk yang punya keahlian tukang kayu maupun tukang batu bekerja ke luar desa. Hal ini disebabkan karena memang usaha penduduk yang utama adalah di sektor pertanian. Pekerjaan yang sifatnya insidentil ini seringkali hanya dilakukan disela-sela kegiatan usaha pertaniannya. Oleh karena itu mereka lebih senang disebut sebagai petani bukan sebagai tukang kayu atau tukang batu.
Terdapat program dusun  yang berupa pembangunan fasilitas dusun yang belum terealisasikan antara lain :  (1) Pengaspalan jalan dari Dusun Palangjiwan ke Dusun Mriyan sepanjang + 3 km; (2). Pembuatan bangket (talud) permanen saluran irigasi di batas Dusun Palangjiwan dan Dusun Mriyan sepanjang + 2 km; (3) Pembuatan saluran peresapan dari kampung palangjiwan ke Sungai Patusan untuk menghindari banjir; (4). Pengaspalan beberapa ruas jalan desa; (5). Pengerasan jalan desa yang masih berupa jalan tanah baik dengan konblok maupun pengerasan lainnya seperti diplester dengan menggunakan campuran pasir dan semen. Program pengembangan dusun ini sudah seringkali diusulkan, namun belum ada realisasinya sampai sekarang. Seringkali terjadi program pembangunan di dusun ini tidak hanya menunggu bantuan dari pemerintah, namun yang tidak terlalu membutuhkan dana yang banyak, masyarakat melakukannya secara swadaya. Namun untuk program-program yang membutuhkan dana tidak sedikit, tentunya harapan dari dusun, pemerintah ikut campur tangan melalui anggaran yang sudah diusulkan tersebut.
--------------
12.SRUWUH
Kondisi Geografis
Dusun Sruwuh terletak disebelah utara timur Desa Donotirto Kecamatan Kretek dan merupakan pusat pemerintahan tingkat kecamatan dimana Kantor Kecamatan Kretek terletak dengan batas wilayah administratif sebagai berikut :
  • Sebelah Utara : Desa Sidomulyo Kecamatan Bambanglipuro
  • Sebelah Barat : Dusun Tegalsari
  • Sebelah Timur : Desa Panjangsari Kecamatan Pundong
  • Sebelah Selatan : Dusun Busuran
Dusun Sruwuh terdiri dari 4 Rukun Tetangga (RT) yaitu RT 41 – RT 44 dengan jumlah penduduk 485 jiwa terdiri penduduk laki-laki 208 jiwa dan perempuan 277 jiwa.
Secara geografis Dusun Sruwuh seolah terbagi menjadi 2 wilayah dengan jalan Parangtritis sebagai porosnya. Sebelah timur jalan Parangtritis sebagai wilayah permukiman dan di sebelah barat jalan Parangtritis sebagai wilayah persawahan. Kondisi topografis daerah dataran ,kemiringan lereng 0 – 2 % dengan penggunaan tanah sebagian besar digunakan untuk permukiman dan sebagian lagi merupakan daerah pertanian tegalan dan persawahan. Pola permukiman penduduk mengelompok disebelah timur dusun dengan kondisi permukiman relatif padat dan tidak terlalu teratur sebagaimana umumnya permukiman di perdesaan. Tegalan terletak disebelah timur dusun dan areal persawahan terletak disebelah barat dusun mengikuti pola aliran irigasi yang terdapat diwilayah tersebut.
Potensi Dusun
Kepala Dusun Sruwuh adalah Bapak Kusno, yang selain sebagai kepala dusun beliau juga seorang pedagang (memiliki toko yang menjual barang-barang untuk keperluan para petani) pupuk dan obat-obatan yang terkait dengan pertanian.
Berdasarkan banyaknya penduduk menurut pendidikannya sebagian besar 107 jiwa tamat sekolah dasar, 115 tamat  SLTA, 104 tidak tamat sekolah dasar dan sebanyak 17 orang lulus sarjana dan selebihnya lulus SMP dan beberapa tamatan program diploma. Potensi sumberdaya manusia sebagian besar adalah petani, dengan generasi mudanya membentuk Karang Taruna yang beranggotakan 70 orang dengan program kegiatan yang terkait dengan pertanian tanah tegalan adalah program Pisangisasi. Sebagian besar generasi muda tinggal dan bekerja diwilayah ini dan daerah sekitarnya, sedangkan yang bekerja keluar daerah hanya sekitar 10 orang saja
Potensi pertanian tegalan pada umumnya dikembangkan dengan pisangisasi yang menurut kepala dusun memiliki prospek baik dimana untuk buah pisang dijual untuk satu tandan Rp 40.000 dan selain buah pisang pelepahnya yang kering juga laku dijual keluar daerah untuk lapisan keranjang tembakau, beberapa wilayah tegalan juga dikembangkan kolam ikan ( terdapat 4 kolam ikan dengan jenis ikan gurameh, mujahir dan nila). Pekarangan secara umum ditanami dengan tanaman kelapa dan tanaman buah lainnya. Persawahan semua beririgasi teknis dengan masa tanam 3 x dalam setahun dan menurut penuturan kepala dusun belum pernah diselingi dengan tanaman palawija.
ekonomisruwuh
Kelembagaan yang ada di dusun Sruwuh adalah Kelompok Tani Tirto Kencana yang memiliki 1 unit traktor dan 10 diesel (Genset) untuk menyedot air yang digunakan pada musim pengolahan tanah dan penanaman padi.
Sarana dan prasarana yang ada adalah Masjid, perkantoran ( Kantor Kecamatan Kretek, Kantor Pos, Dinas Pendidikan), Puskesmas, Jalan utama (Jl. Parangtritis), jalan pedukuhan yang diperkeras secara swadaya (conblok).
Situs Ekonomi Dusun
Sentra pertumbuhan ekonomi yang ada adalah adanya pertokoan, usaha perbengkelan, usaha meubel, toko swalayan di sepanjang jalan Parangtritis yang masuk wilayah dusun Sruwuh dan adanya industri kecil tempe ( 1 KK ). Usaha meubel dimiliki oleh H. Sarjono dimana lokasi usahanya ada di dusun Sruwuh namun beliau tinggal di dusun Busuran, sedangkan usaha toko swalayan dimiliki oleh H. Ambar Dwianto terlihat cukup besar dengan barang dagangan cukup lengkap dan dapat menyerap tenaga kerja setempat. Kegiatan ekonomi lainnya adalah adanya usaha perbengkelan (bengkel sepeda motor) sebanyak 3 buah, warung Padang 2 buah, warung Bakso 1 buah, dan usaha toko milik bapak Kusno yaitu toko kebutuhan pertanian berupa pupuk dan obat-obatan untuk penyubur tanaman maupun untuk hama. Toko ini sendiri dapat menyerap 4 orang tenaga kerja setempat
Keahlian Warga
Selain sebagai petani dan buruh tani, potensi yang terlihat dari kegiatan usaha adalah keahlian meubeler, perbengkelan, dan membuka warung makan. Keahlian lain terkait dengan mata pencaharian adalah sebagai tukang batu sebanyak 20 KK dengan penghasilan Rp 50.000 per hari, dan tukang kayu sebanyak 10 KK dengan penghasilan Rp 40.000 per hari
Program Pengembangan Dusun
Program yang sudah dirancang pihak dusun beberapa tahun terakhir adalah pengerasan jalan dengan conblok, memperbaiki dan melengkapi barang-barang inventaris pedukuhan berupa soundsystem, tenda, barang pecah belah ( piring, gelas dll) dan kursi lipat. Program pengembangan dusun dibicarakan secara rutin melalui rapat warga “Selasa Kliwonan” dan pembicaraan lain yang terkait dengan kemasyarakatan yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat dan perwakilan RT sebanyak 5 orang. Disisi lain tiap RT juga memiliki kegiatan rutin sendiri yaitu adanya iuran RT perbulan Rp 40.000. Kegiatan yang bersifat kemasyarakatan misalnya apabila ada warga yang meninggal sudah ada pengurus yang mengaturnya, dan kegiatan kerja bakti dusun membersihkan makam rutin tiap minggu dan kegiatan spontanitas lainnya dilakukan oleh masing-masing RT. Kegiatan yang bersifat sosial keagamaan misalnya PKK dilakukan oleh ibu-ibu dan kegiatan keagamaan Yasinan yang dilaksanakan baik oleh bapak-bapak maupun ibu-ibu setiap 2 minggu sekali.
------------
13.TEGALSARI
Kondisi Geografis
DusunTegalsari merupakan salah satu dusun di Desa Donotirto dengan batas administrasi sebagai berikut  :
  • Sebelah Utara               :    dusun Sidomulyo ( Kecamatan Bambanglipuro)
  • Sebelah Barat               :    Dusun Methuk dan GadingLumbung
  • Sebelah Selatan            :    Dusun Gadingharjo
  • Sebelah Timur               :    Dusun Busuran dan Dusun Sruwuh
Secara fisik yang membatasi Dusun Tegalsari dengan Dusun Methuk dibatasi oleh Sungai Winongo.
jembatan
Salah satu jembatan gantung yang melintasi Sungai Winongo (Dokumentasi STPN)
Gambar di atas adalah salah satu jembatan gantung yang melintasi sungai Winongo yang menghubungkan Dusun Tegalsari dan Dusun Methuk. Sedangkan batas Timur yang membatasi Dusun Tegalsari dengan dusun Sruwuh dan Busuran adalah Jalan Parangtritis.. Kondisi wilayah Dusun secara umum merupakan dataran rendah dengan penggunaan tanah untuk pemukiman dan pekarangan dan sebagian kecil sawah. Bentuk pemukiman permanen yang menandakan kehidupan ekonomi warga dusun cukup baik.
Sejarah Dusun
Sejarah Dusun Tegalsari pada awal mulanya merupakan daerah  tegalan yang tandus yang tidak dapat ditanami tanaman pertanian. Hal ini disebabkan karena sarana irigasi belum terbangun di wilayah dusun  tersebut walaupun terdapat sungai yang begitu luas yaitusungai winongo. Lama kelamaan satu persatu penduduk membangun rumah di tegalan tersebut sehingga terbentuknya suatu perkampungan. Fasilitas pasar juga ada di perkampungan tersebut, yaitu pasar Ngangkrung sari. Akhirnya karena pada awalnya kampung tersebut berasal dari  tegalan dan terdapat pasar, maka  dusun tersebut dinamakan Tegal sari yang merupakan gabungan tegal dan kata akhir dari nama pasar tersebut.
Sisa tegalan yang saat ini telah menjadi sawah karena fasilitas irigasi telah terbangun DAM Si Kluwih yang ada di wilayah Dusun Tegal sari yang hanya dimiliki oleh beberapa warga saja. Hamparan di atas adalah sawah miliki warga dusun Tegalsari dan Dusun Sruwuh yang letaknya berdampingan di sebelah utara lokasi pasar Ngangkruk Sari.  Gambar di bawah ini adalah kondisi pasar Ngangkruk Sari yang terpotret dari luar pasar yang telah sepi pengunjung dan penjual, karena pemotretan di lakukan pada sore hari. Situasi pasar ramai hanya pada malam hari.
Potensi Dusun
Dusun Tegalsari merupakan jantung kota Kecamatan Kretek, sehingga potensi sumberdaya alamnya tidak begitu banyak. Areal pertanian yang ada hanya sebagaian kecil saja yang menjadi penopang kehidupan warga dusun Tegalsari. Kebanyakan warga tidak memiliki tanah pertanian, hanyakita-kira 5 keluarga yang memiliki sawah sendiri. Areal sawah berada di sebelah utara pasarNgangkruk sari dan berdampingan dengan lokasisawah warga Dusun Sruwuh. Kondisi strategis dusun yang menjadikan potensi daerah tersebut. Pasar sebagai lalu lintas perdagangan kecamatan beroperasional di pagi sampai siang hari. Sedangkan sore hari di sepanjang jalan depan pasar sebagai tempat penjual angkringan serta jajanan  dan lauk pauk seperti pecel, mie, bakwan dll.  Potenai SDA yang lain hanyalah hasil tanaman pekarangan yang berupa pisang dan kelapa yang dominan. Tanaman buah- buahan hanya sebagian kecil saja, dan itupun hanya untuk konsumsi sendiri. Walaupun terdapat sungai yang tergolong besat, sungai Winongo berfungsi sebagai sarana irigasi untuk areal tanah pertanian di dusun lain selain Dusun Tegalsari.   Sungai tersebut telah dibangun DAM, yang berfungsi untuk mengatur aliran air sungai agar dapat dimanfaatkan. DAM tersebut dinamakan DAM Sikluwih, karena kala itu, di dekat pembangunan DAM terdapat pohon kluwih yang dijadikan nama DAM tersebut. Bahkan Pemerintah Desa Donotirto mempercayakan 2 orang warga Dusun Tegalsari untuk menjaga dan memelihara sekaligus mengoperasionalkan DAM sesuai kebutuhan dan kondisi  DAM. Penjaga DAM bukan merupakan aparat desa tetapi dipercaya untuk mengoperasionalkan DAM dengan gaji yang diperoleh berupa tanah bengkok. Tanah bengkok yang diterima eluas 50 ru atau sekitar 700 m2. Kedua warga tersebut bergantian dalam melaksanakan tugas mengurus  DAM  tersebut.
Penduduk Tegalsari sejumlah 788 jiwa yang terdiri dari laki – laki 393 dan perempuan 395 orang. Matapencaharian penduduk yang dominan adalah di bidang jasa, misalnya sebagai buruh bangunan, tukang parkir, penjual makanan /jajan pasar, buka warung kelontong, salon, penjual makanan malam hari/angkringan.
PasarBeberapa warga masyarakat berjualanan makanan seperti bakwan, arem-arem, burjo, dan makanan tradisional lainnya di pasar tersebut. Selain berjualan, ada juga yang bekerja sebagai tukang parkir di pasar tersebut. Ada pula yang buka warung/atau took kelontong yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari- hari. Usaha makanan bagi sebagaian besar warga Dusun Tegalsari merupakan usaha keluarga, karena dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dan tidak hanya ibu rumah tangga. Kepala keluarga ikut serta dalam penyiapan barang dagangan.
Dusun Tegalsari sebagai kota kecamatan Kretek sehingga selain warga asli juga banyak pendatang yang akhirnya menjadi warga Dusun Tegalsari. Kaum pendatang tersebut juga sebagai pedagang di sekitar pasar Ngangkruksari. Sarana prasarana yang ada di dusun Tegalsari ada bermacam-macam. Sarana pendidikan yang berupa sekolah mulai dari TK, SD SMP dan SLTA ada di Dusun Tegalsari. Sarana prasarana yang berkaitan dengan keagamaan juga tedapat Kantor Urusan Agama, pondok pesantren Rohmatul Iman dan Nurul Ullum. Pondok pesantren Rohmatul Iman memfokuskan pada kajian-kajian keagamaan bagi orang dewasa sedangkan Nurul Ullum mengajarkan kepada anak-anak dan balita dalam membaca Al-Qur’an.
Bangunan gedung Kantor Urusan Agama Kecamatan Kretek tersebut berada tepat di depan kompleks pasar Ngangkruksari dan juga kompleks gedung SMK Ma’arif 1 Kretek.
Gedung SMK Ma’arif merupakan salah satu sarana pendidikan yang berlokasi di Dusun Tegalsari selain Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.  Matapencaharian masyarakat selain jasa, juga ada yang berusaha di bidang peternakan sepert iitik kira- kira ada 20 keluarga yang beternak itik. Hasil ternak dapat dimanfaatkan sewaktu- waktu apabila terdapat kebutuhan yang mendesak seperti hajatan tetangga, biaya sekolah anak  ta’ziah dll.
 Situs Ekonomi Dusun
Dusun Tegalsari secara khusus tidak terdapati ndustri kecil sampai menengah yang nota bene merekrut tenaga kerja. Industri yang ada hanyalah industry rumahan dengan tenaga kerja seluruh keluarga dalam menyiapkan barang dagangan.  Hal ini yang menyebabkan belum adanya lembaga keuangan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha oleh warga masyarakat selama ini. Satu- satunya lembaga bantuan permodalan untuk usaha yang ada adalah PNPM Mandiri . Warga masyarakat agar dapat mendapatkan bantuan tersebut membentuk kelompok yang beranggotakan 5 orang dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Pembayaran angsuran melalui bendahara atau /ketua kelompok masing- masing yang kemudian dibayarkan kepada pengurus PNPM Mandiri yang berkantor di Balai Desa Donotirto. Pengurus PNPM bukan aparat desa melainkan berdiri sendiri. Kantor desa sebagai  kantor agar mudah di akses oleh warga masyarakat yang membutuhkan.
 Keahlian Warga
Keahlian  warga dusun Tegalsari secara spesifik tidak ada. Keahlian rata-rata usaha di bidang perdagangan/usaha keluarga. Berdagang di pasar tradisional dan berdagang di lokasi pentai Parangtritis. Usaha perdaagngan di lokasi pantai hanya disaat-saat liburan seperti hari minggu, dikala pantai ramai pengunjung. Selain hari tersebut, saat tertentu liburan sekolah ataupun saat hari raya dan tahun baru tiba. Pengunjung datang dari berbagai daerah diseluruh Indonesia bahkan wisatawan manca negara. Generasi muda yang telah lulus sekolah bekerja serabutan seperti buruh bangunan (laden tukang), itupun apabila ada tentangga/famili yang mengajak untuk bekerja. Apabila tidak ada pekerjaan mereka melakukan pekerjaan keluarga seperti menyiapkan dagangan orang tua yang akan di bawa ke pasar atau lokasi pantai.
 Program Pengembangan Dusun
Program pengembangan dusun saat ini belum ada lembaga yang masuk selain program PNPM Mandiri yang telah diuraikan di atas. Warga sudah puas dengan usaha yang telah dilakukan selama ini. Mereka merasa kewalahan apabila kapasitas dagangan ditingkatkan dengan tenaga kerja keluarga yang mereka lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar